Selasa, 18 Oktober 2016

JEJAK HATI MB’ BERJUBAH

JEJAK HATI MB’ BERJUBAH

Pagi ceria, aku harus bangun lebih pagi karena hari itu adalah hari pertama ku  masuk  SMA. Melaksanakan kewajibanku membantu mama menyiapkan sarapan pagi adalah kegiatan rutin di waktu pagi, bahkan terkadang hanya aku sendiri yang menyiapkan sarapan.  Tepat pukul 06:00 aku bersiap. Mungkin hari pertama pula aku berdiri lebih lama di depan cermin, memandangi penampilan baru memakai seragam putih abu-abu. Kalau hanya berganti warna seragam sih tidak ada yang aneh, tapi memakai seragam panjang dan berbalut jilbab di kepala lah yang membuatku lama berdiri di depan cermin, maklum kali pertama aku berhijab.
“ci, sarapan, sudah siang ini” .
Suara mama dari luar kamar membuatku menyudahi aktivitasku saat itu, langkahku begitu berat untuk keluar karena rasa kurang percaya diri ku dengan penampilan tertutup. Mungkin aku belum terbiasa, tapi aku harus membiasakan diri, karena ini adalah pilihanku. Hari itu aku menutup mata dan telinga ku, menahan bully dari sahabat-sahabat ku  yang akan menimpa diriku saat di sekolah. Betapa malunya aku jika aku dibully,  apalagi saat SMP aku bukan orang yang sholehah apalagi berhijab, melompat gerbang depan SMP pun pernah aku lakukan, berkelahi, dan  pergaulan dengan lawan jenis pun hal biasa. Hingga pada suatu hari aku diajak untuk mengikuti pengajian dan tak kusangka ternyata dari pengajian itu bisa membukakan mata hatiku bahwa hijab adalah kewajiban bagi seorang wanita. Mulai hari itu lah aku menjatuhkan pilihanku untuk berhijab saat SMA. Perkenalkan nama ku Eci, aku siswa SMAN 1 xxxxxxxxxx.  Beranjak ke 16 tahun, aku menjadi siswa semester satu disekolah ini. 
***
Waktu menunjukkan pukul 06:50. Aku langsung berangkat ke sekolah, “masa iya hari pertama masuk sekolah telat’’  pikirku saat itu. Jarak antara rumah dan sekolahku lumayan jauh, gak sanggup deh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Jadi, aku naik angkutan umum. Hanya menunggu beberapa menit saja tiba sebuah mobil angkot biru yang berisi anak-anak sekolah. Aku pun naik mobil itu.  15 menit kemudian aku tiba di depan sekolah. Tiga hari pasca MOS, aku benar-benar mulai menikmati massa SMA yang sangat berbeda dari bayangan ku sejak SMP, menjadi anak SMA seperti di layar televisi, namun realitasnya, aku yang memakai hijab meski menjaga diriku sendiri.  “deg, dibully gak ya” detak jantungku berdebar dua kali lipat dari biasanya. Takut, malu, kurang percaya diri bercampur padu menjadi satu, membuatku melambatkan langkah kaki ku agar lama sampai di kelas.
hai, Eci”. Astaga, detak jantungku berdebar menjadi 4 kali lipat dari sebelumnya. Mendengar suara seorang perempuan dari belakang menepuk pundakku, ternyata winna teman sebangku ku. Aku hanya membalasnya dengan senyum, melihatnya memerhatikanku, aku telah bersiap untuk mendengar komentarnya. “wah, pantes angin berhembus lebih kencang, dedaunan begitu segar, mentari pun  sangat cerah, eci memakai jilbab, cie Eci, makin anggun”. Sembari melingkarkan tangannya ke pundakku. “akhirnya, apa yang aku khawatirkan se-pagi ini terjadi juga”. Dan aku telah sepakat dengan diriku sendiri untuk menutup telingaku hari itu.
****

Usai upacara setiap hari senin, aku menuju ke kelasku, lumayan jauh dari lapangan, tepat paling ujung deretan kelas bagian atas. Hampir semua teman perempuan di kelasku mengenakan hijab, termasuk temanku sedari SMP. “hai Eci, hari ini ada pendaftaran karate, mau ikut gak?”, tawaran yang menarik bagiku dari seorang teman yang baru aku kenal saat pertama masuk SMA. Karena aku menyukai bela diri, tentu aku menerima tawaran itu, apalagi ke empat temanku juga ikut mendaftarkan diri. Itulah ekstrakulikuler pertama yang aku ikuti, menjadi seorang yang menguasai bela diri adalah keinginanku sejak SMP. Sepulang sekolah, tepat pukul 16:00, latihan karate pertamaku di sekolah itu, “lumayan banyak juga yang latihan”, pikirku. Tampak seseorang di tengah lapangan meniup peluitnya, hanya beberapa menit saja, orang-orang di sekelilingnya sudah berkumpul di lapangan. “heh, ayo latihan”. Suara Mila menghamburkan fokusku pada orang-orang yang tengah memakai pakaian berwarna putih, baju karate. Awal latihan, hanya memperkenalkan posisi tangan mengepal, posisi tubuh kuda-kuda, berdiri siap. Tidak terlalu menarik, tapi hari itu aku mendapat pujian karena kepalan tangan yang tepat , pujian dari seorang pelatih yang nampaknya aku mengenalnya. Kakak kelas yang saat itu menjadi panitia MOS, ternyata pelatih karate. Hari itupun aku memutuskan untuk terus mengikuti kegiatan ini. 6 bulan aku menggeluti kegiatan karate, hingga pada ujian pergantian sabuk di sebuah gedung, tidak terlalu jauh dari sekolahku. 

Bersambung............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar