JEJAK
HATI MB’ BERJUBAH
Pagi ceria, aku harus
bangun lebih pagi karena hari itu adalah hari pertama ku masuk
SMA. Melaksanakan kewajibanku membantu mama menyiapkan sarapan pagi
adalah kegiatan rutin di waktu pagi, bahkan terkadang hanya aku sendiri yang
menyiapkan sarapan. Tepat pukul 06:00
aku bersiap. Mungkin hari pertama pula aku berdiri lebih lama di depan cermin,
memandangi penampilan baru memakai seragam putih abu-abu. Kalau hanya berganti
warna seragam sih tidak ada yang
aneh, tapi memakai seragam panjang dan berbalut jilbab di kepala lah yang
membuatku lama berdiri di depan cermin, maklum kali pertama aku berhijab.
“ci,
sarapan, sudah siang ini” .
Suara mama dari luar
kamar membuatku menyudahi aktivitasku saat itu, langkahku begitu berat untuk
keluar karena rasa kurang percaya diri ku dengan penampilan tertutup. Mungkin
aku belum terbiasa, tapi aku harus membiasakan diri, karena ini adalah
pilihanku. Hari itu aku menutup mata dan telinga ku, menahan bully dari sahabat-sahabat ku yang akan menimpa diriku saat di sekolah.
Betapa malunya aku jika aku dibully, apalagi saat SMP aku bukan orang yang
sholehah apalagi berhijab, melompat gerbang depan SMP pun pernah aku lakukan,
berkelahi, dan pergaulan dengan lawan
jenis pun hal biasa. Hingga pada suatu hari aku diajak untuk mengikuti
pengajian dan tak kusangka ternyata dari pengajian itu bisa membukakan mata
hatiku bahwa hijab adalah kewajiban bagi seorang wanita. Mulai hari itu lah aku
menjatuhkan pilihanku untuk berhijab saat SMA. Perkenalkan nama ku Eci, aku
siswa SMAN 1 xxxxxxxxxx. Beranjak ke
16 tahun, aku menjadi siswa semester satu disekolah ini.
***
Waktu menunjukkan pukul
06:50. Aku langsung berangkat ke sekolah, “masa
iya hari pertama masuk sekolah
telat’’ pikirku saat itu. Jarak antara
rumah dan sekolahku lumayan jauh, gak
sanggup deh kalau ditempuh dengan
berjalan kaki. Jadi, aku naik angkutan umum. Hanya menunggu beberapa menit saja
tiba sebuah mobil angkot biru yang berisi anak-anak sekolah. Aku pun naik mobil
itu. 15 menit kemudian aku tiba di depan
sekolah. Tiga hari pasca MOS, aku benar-benar mulai menikmati massa SMA yang
sangat berbeda dari bayangan ku sejak SMP, menjadi anak SMA seperti di layar
televisi, namun realitasnya, aku yang memakai hijab meski menjaga diriku
sendiri. “deg, dibully gak ya” detak jantungku berdebar dua kali lipat dari
biasanya. Takut, malu, kurang percaya diri bercampur padu menjadi satu,
membuatku melambatkan langkah kaki ku agar lama sampai di kelas.
“hai, Eci”. Astaga, detak jantungku berdebar menjadi 4 kali lipat
dari sebelumnya. Mendengar suara seorang perempuan dari belakang menepuk
pundakku, ternyata winna teman sebangku ku. Aku hanya membalasnya dengan
senyum, melihatnya memerhatikanku, aku telah bersiap untuk mendengar komentarnya.
“wah, pantes angin berhembus lebih
kencang, dedaunan begitu segar, mentari
pun sangat cerah, eci memakai jilbab,
cie Eci, makin anggun”. Sembari melingkarkan tangannya ke pundakku. “akhirnya, apa yang aku khawatirkan se-pagi
ini terjadi juga”. Dan aku telah sepakat dengan diriku sendiri untuk
menutup telingaku hari itu.
****
Usai upacara setiap
hari senin, aku menuju ke kelasku, lumayan jauh dari lapangan, tepat paling
ujung deretan kelas bagian atas. Hampir semua teman perempuan di kelasku
mengenakan hijab, termasuk temanku sedari SMP. “hai Eci, hari ini ada pendaftaran karate, mau ikut gak?”, tawaran
yang menarik bagiku dari seorang teman yang baru aku kenal saat pertama masuk
SMA. Karena aku menyukai bela diri, tentu aku menerima tawaran itu, apalagi ke
empat temanku juga ikut mendaftarkan diri. Itulah ekstrakulikuler pertama yang
aku ikuti, menjadi seorang yang menguasai bela diri adalah keinginanku sejak
SMP. Sepulang sekolah, tepat pukul 16:00, latihan karate pertamaku di sekolah
itu, “lumayan banyak juga yang latihan”,
pikirku. Tampak seseorang di tengah lapangan meniup peluitnya, hanya beberapa
menit saja, orang-orang di sekelilingnya sudah berkumpul di lapangan. “heh, ayo latihan”. Suara Mila
menghamburkan fokusku pada orang-orang yang tengah memakai pakaian berwarna
putih, baju karate. Awal latihan, hanya memperkenalkan posisi tangan mengepal,
posisi tubuh kuda-kuda, berdiri siap. Tidak terlalu menarik, tapi hari itu aku
mendapat pujian karena kepalan tangan yang tepat , pujian dari seorang pelatih
yang nampaknya aku mengenalnya. Kakak kelas yang saat itu menjadi panitia MOS,
ternyata pelatih karate. Hari itupun aku memutuskan untuk terus mengikuti
kegiatan ini. 6 bulan aku menggeluti kegiatan karate, hingga pada ujian
pergantian sabuk di sebuah gedung, tidak terlalu jauh dari sekolahku.
Bersambung............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar