IV.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh data pengamatan
seperti yang terlihat pada Tabel.1 berikut
yaitu:
Tabel
1. Data Pengamatan
|
No
|
a(cm)
|
eα(cm)
|
eβ(cm)
|
eγ(cm)
|
λα(nm)
|
λβ(nm)
|
λγ
(nm)
|
|
1
|
20
|
8,5
|
6,2
|
6,0
|
12,5.103
|
10,8.103
|
5,6.103
|
|
2
|
25
|
10,3
|
6,0
|
7,8
|
11,3.103
|
10,3.103
|
5,9.103
|
|
3
|
30
|
11,5
|
6,3
|
8,0
|
10,7.103
|
9,7.103
|
4,9.103
|
4.2
Pembahasan
Pada
akhir abad ke-XIX ditemukan bahwa panjang gelombang yang berada pada spektrum
atomik jatuh pada kumpulan tertentu yang disebut deret spektral. Deret spektral
pertama yang ditemukan J.J Balmer tahun 1885 ketika ia mempelajari bagian
tampak dari spektrum hidrogen berupa panjang gelombang dalam setiap deret yang
dispesifikasi dalam rumus empiris sederhana sehingga menyatakan spektrum
lengkap suatu unsur. Ketika gas atomik atau uap atomik yang bertekanan rendah diberikan beda
potensial, maka atom gas tersebut akan tereksitasi dan akan memancarkan spektrum yang berisi panjang-panjang gelombang
tertentu saja. Spektrum garis yang dipancarkan setiap unsur berbeda-beda,
sehingga masing-masing unsur memiliki spektrum garis karakteristik.
Balmer melakukan eksperimen
untuk mengukur spektrum yang
dipancarkan gas Hidroen dengan menempatkan gas Hidrogen dalam tabung yang sudah
dilengkapi dengan elektroda,(disebut lampu Balmer). Elektroda lampu balmer
disambungkan ke sumber tegangan DC, dan mengakibatkan lampu balmer menyala
dengan warna cahaya berwarna pink. Spektrum dari lampu balmer itu kemudian
diamati dengan menggunakan spektrometer dan tampak berupa spektrum garis. Fakta eksperimen tersebut bertentangan dengan model atom
Rutherford, yaitu bahwa spektrum atom kontinyu.
Hal inilah yang menjadi kelemahan dari model atom Rutherford. Baik Rutherford
maupun Balmer tidak bisa menjelaskan
secara teoritis mengapa spektrum atom itu
berupa spektrum garis atau spekrum diskrit.
Niels Bohr berusaha
menjelaskan secara teoretis fakta eksperimen yang diperoleh oleh balmer dan
kawan-kawan. Penjelasanya dinyatakan dalam bentuk postulat. Pada tahun 1913
Neils Bohr mengajukan postulat tentang atom hidrogen sebagai berikut :
1. Atom hidrogen terdiri dari sebuah
elektron yang bergerak dalam suatu lintas edar berbentuk lingkaran mengelilingi
inti atom; gerak elektron tersebut dipengaruhi oleh gaya tarik coulomb sesuai
dengan kaidah mekanika klasik.
2. Lintas edar elektron dalam atom
hidrogen yang mantap hanyalah yang mempunyai harga momentum anguler L yang
merupakan kelipatan dari tetapan Planck dibagi 2p.
3. Dalam lintas edar yang mantap
elektron yang mengelilingi inti atom tidak memancarkan energi elektromagnetik.
Dalam hal tersebut energi totalnya tidak berubah.
4. Energi elektromagnetik dipancarkan
oleh sistem atom apabila suatu elektron yang melintasi orbit lain yang
berenergi Ef. Pancaran energi elektromagnetnya memiliki frekuensi n.
Spektrum garis atom hidrogen berhasil
dijelaskan oleh Niels Bohr pada tahun
1913.
Spektrum garis membentuk suatu deretan warna cahaya dengan panjang gelombang
berbeda. Untuk gas hidrogen yang merupakan atom yang paling sederhana, deret
panjang gelombang ini ternyata mempunyai pola tertentu yang dapat dinyatakan
dalam bentuk persamaan matematis. Seorang guru matematika Swiss bernama Balmer
menyatakan deret untuk gas hidrogen sebagai persamaan berikut ini. Selanjutnya,
deret ini disebut deret Balmer. Panjang gelombang yang dirumuskan oleh Bohr :
Pada percobaan deret
Balmer, akan menjadi simulasi sejarah/eksperimen yang telah dilakukan ilmuwan
terdahulu, dengan menggunakan lampu balmer, layar tembus cahaya, lensa (f= ±50
nm dan ±100 nm), bangku optik, celah variabel, kisi. kemudian menyusun
alat-alat tersebut sesuai dengan skema percobaan dengan susunan layar, kisi,
lensa (±100 nm), celah variabel, lensa (±50 nm), dan lampu balmer, menyamakan
tingginya. Lalu menyambungkan ke PLN untuk menghidupkan lampu balmer, setelah
lampu hidup, menggeser/mengatur jarak kisi dengan layar tembus cahaya dengan
variasi jarak sebagai a (5 cm, 10 cm dan 15 cm), kemudian mengamati layar
hingga terbentuk spektrum, dengan mengatur agar spektrum warna yang terbentuk
fokus dan jelas dengan menggunakan celah variabel. Setelah spektrum warna
terlihat jelas, memberikan kertas putih pada layar, menandai pada garis
spektralnya dan mengukur masing-masing jarak garis spektral sebagai data eα,
eβ, dan eγ. Hasil gambar yang teramati berupa spektrum
garis berwarna (merah, hijau, biru dan jingga), dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Spektrum garis pada jarak (a) = 5 cm
Berdasarkan Gambar 17, jarak eα = 6,3
cm, eβ = 4,7 cm dan eγ = 1,9 cm. E merupakan jarak antar
spektrum dengan α adalah jarak terjauh dari yang lainnya. Sehingga menghasilkan
panjang gelombang yang lebih panjang dari panjang gelombang β dan γ. Yaitu
12,5.103 nm, sedangkan panjang gelombang β = 10,8.103 nm
dan panjang gelombang γ = 5,6.103 nm, sedangkan pada jarak (a) 10 cm
diperoleh Gambar 18.
![]() |
Gambar 18. Spektrum garis pada jarak (a) = 10 cm
Sama dengan spektrum jarak (a) = 5 cm, jarak eα
= 10 cm, eβ = 8,5 cm dan eγ = 4 cm. Panjang gelombang
diperoleh λα = 11,3.103 nm, λβ = 10,3.103 nm dan λγ =
5,9.103 nm. Spektrum warna pada jarak (a) 15 cm, diperlihatkan pada
Gambar 19.
![]() |
Gambar 19. Spektrum garis pada jarak (a) = 15 cm
Berdasarkan Gambar 19, dengan eα = 13,5
cm, eβ = 11,5 cm dan eγ = 4,9 cm, diperoleh panjang
gelombang α 10,7.103 nm, panjang gelombang β 9,7.103 nm
dan panjang gelombang γ 4,9.103 nm.
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa,
semakin jauh jarak kisi dan layar, panjang gelombang masing-masing yang
diperolah semakin kecil, panjang gelombang terbesar yaitu pada panjang
gelombang α (merah), kemudian β (hijau) dan γ (biru). Hal tersebut dikarenakan
panjang gelombang sangat erat kaitannya dengan intensitas, dengan intensitas
yang besar, maka frekuensi yang dimiliki cahaya akan besar, maka panjang
gelombangnya pendek. Pada jarak yang jauh justru memiliki intensitas yang
besar. Jika dibandingkan dengan teori, panjang gelombang merah (Hα)
sebesar 6563 A, sedangkan panjang gelombang hijau 4861 A dan panjang gelombang
biru (Hγ) sebesar 4341 A. Antara hasil pengamatan dan teori memiliki selisih
yang banyak, namun pada jarak (a) 15 cm, hasil panjang gelombang eksperimen
dengan teori tidak berbeda jauh.


Perbedaan panjang gelombang pada tiap warna
disebabkan oleh perbedaan tingkat kulit tempat dimana elektron tereksitasi.
Jika elektron tereksitasi ke kulit ke 6 dan kembali ke kulit ke dua, maka
melepaskan energi yang memancarkan warna ungu. Sementara, jika elektron dari kulit ke 5
menuju kulit ke 2, akan melepaskan energi yang memancarkan warna biru (agak
kehijauan). Kemudian, jika elektron yang tereksitasi dari ke kulit ke3, kembali
ke kulit ke 2, memancarkan warna merah.
Bayangan yang dihasilkan akan
terlihat seperti satu sumber apabila cahaya melewati celah sempit. Garis
spekral inilah yang sebenarnya bukan merupakan garis tunggal, tetapi terdiri dari
beberapa garis warna yang berdekatan satu sama lain. Hal inilah yang
menunjukkan bahwa cahaya yang digunakan adalah cahaya polikromatis dimana akan
timbul spektrum warna. Spektrum warna tersebut timbul akibat rotasi dan vibrasi
atom dalam molekul yang tereksitasi. Semakin kecil panjang gelombang maka
spektrum atau jarak antara warna menjadi semakin dekat dan intensitasnya
melemah, dan ini terlihat dari warna garis spektrum yang memudar. Dari hasil pengamatan saat percobaan berupa
sudut untuk setiap warna pada masing-masing orde, dari sinilah kita dapat
menghitung panjang gelombang rata-rata dan konstanta Rydberg. Sesuai percobaan ini, deret Balmer sendiri dapat
didukung atau dipengaruhi oleh jarak (a) dan intensitas cahaya. Jauh atau dekatnya jarak
sangat berpengaruh terhadap nilai eα, eβ, dan eγ yang
dihasilkan, karena antara jarak (a) dan eα, eβ, dan
eγ adalah sebanding. Hubungan antara panjang gelombang dengan jarak
spektrum dapat dilihat pada Gambar 20.
![]() |
Add caption |
Gambar 20. Grafik hubungan
panjang gelombang dan jarak spektrum (e)
Berdasarkan grafik pada Gambar 20, hubungan antara
panjang gelombang dan jarak antara spektrum, semakin jauh jarak spektrum,
semakin kecil panjang gelombangnya. Pada panjang gelombang alpha, grafik warna
biru diperoleh kemiringan/ketelitian garis 97% dengan persamaan garis y =
-250,7x + 12990. Pada beta kemiringan garis lebih besar/akurat dari alpha
(98,5%) dengan persamaan garis y = -160,4x + 11588. Dan spektrum gama, memiliki
garis pada grafik yang lebih curam dan kurang linier, sehingga ketelitian garis
hanya 25% dengan persamaan garis y = -166,6x + 6066. Spektrum atom hidrogen
(deret Balmer), dapat diaplikasikan dalam osiloskop tabung layat TV, display komputer, smartphone dan lain-lain.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar